Pembaca sekalian, pernahkah pembaca merasakan menjadi mahasiswa? Tugas akhir menumpuk pra ujian akhir semester. Dan itu harus dikerjakan dan dikumpulkan sebelum tenggat waktu yang telah ditentukan dosen. Berbagai cara telah penulis lakukan, seperti bekerja kelompok, bangun tengah malam untuk menyelesaikan tugas akhir, dan tidak menunda dan langsung mengerjakan tugas yang telah diberikan dosen. Herannya, aku kok merasa seakan-akan tugas ini tidak ada akhirnya.
Orang tuaku dan teman-temanku telah memberikan support dan motivasi, tetapi kok seperti belum ada effect nya.
Senin, 23 April 2012
Ulah Mahasiswa tidak Bertanggung Jawab di KM
Dear pembaca sekalian, pada kesempatan kali ini, penulis akan mengungkapkan kejadian yang sangat amat tidak mengenakkan sekali. Cerita diawali ketika saya akan buang air kecil di kamar mandi. Setelah menuju tempat yang dibutuhkan (kamar mandi).. bingo.. "ada pisang" yang mengapung di pispot. Selain itu bau "pesing" juga menambah semarak kejadian yang tidak adil tersebut. Saya katakan tidak adil, sebab hal ini sebenarnya tidak pantas untuk saya alami. Saya pribadi sebenarnya tidak pernah melakukan kegiatan tidak bertanggung jawab tersebut. Setiap habis buang air, saya selalu bertanggung jawab untuk ikut memelihara kenyamanan pengguna kamar mandi dengan cara menyiram bagian-bagian tertentu dengan benar. Huft.. sempat shock juga tadi. Bukannya apa, saya jadi tidak nyaman untuk kembali ke kamar mandi tersebut. Coba kalau pembaca sekalian yang mengalaminya, pasti akan terasa tidak nyaman.
Menanggapi kejadian tidak mengenakkan diatas, saya beropini bahwa setiap mahasiswa seharusnya ikut menjaga kenyamanan kamar mandi, dengan cara memperlakukan kamar mandi dengan tanggung jawab dan ada rasa memiliki. Ini penting, mengingat bukan kali ini saja saya mengalami kejadian tidak mengenakkan diatas. Seringkali saya mendapat perlakuan yang seharusnya tidak saya dapatkan.
Bagaimanakah pendapat pembaca sekalian? Semoga cerita sederhana diatas dapat menggugah hati nurani pembaca yang budiman agar tidak melakukan tindakan serupa, sebab tentu saja akan merugikan orang lain. Sekian...
Menanggapi kejadian tidak mengenakkan diatas, saya beropini bahwa setiap mahasiswa seharusnya ikut menjaga kenyamanan kamar mandi, dengan cara memperlakukan kamar mandi dengan tanggung jawab dan ada rasa memiliki. Ini penting, mengingat bukan kali ini saja saya mengalami kejadian tidak mengenakkan diatas. Seringkali saya mendapat perlakuan yang seharusnya tidak saya dapatkan.
Bagaimanakah pendapat pembaca sekalian? Semoga cerita sederhana diatas dapat menggugah hati nurani pembaca yang budiman agar tidak melakukan tindakan serupa, sebab tentu saja akan merugikan orang lain. Sekian...
Mahasiswa menurut Opini Penulis
Kata mahasiswa berasal dari kata maha yang artinya besar, dan siswa yang artinya orang yang menempuh kegiatan studi. Dari sini penulis beropini bahwa mahasiswa berarti orang yang menempuh kegiatan studi yang dapat mengurusi segala aspek kehidupan kampus dengan mandiri dan tanggung jawab.
Mahasiswa yang ada dalam bayangan penulis seharusnya produktif, baik dalam pemikiran maupun tindakan. Artinya tidak boleh ada mahasiswa yang menganggur. Penulis berpendapat, kebiasaan menganggur itulah yang menyebabkan terjadinya perbuatan penyimpangan, seperti seks bebas, mencuri, merusak sarana dan prasarana kampus, dll.
Saya kurang setuju mengenai mahasiswa yang maunya hanya dituntun, ini tidak baik untuk kedepannya. Bagaimana mahasiswa mampu berguna di kehidupan masyarakat, apabila kebiasaan maunya hanya dituntun ini terus dipelihara. Mahasiswa dituntut mampu untuk berbuat banyak demi perubahan di kehidupan masyarakat.
Ada banyak cara bagi mahasiswa untuk belajar meningkatkan produktivitas. Produktivitas itu sendiri dibagi menjadi dua, yaitu produktivitas di bidang akademik maupun produktivitas di bidang non akademik. Penulis sendiri sebagai mahasiswa yang tidak mau menganggur, berusaha melibatkan diri dalam unit kegiatan mahasiswa penulis (UKMP) di UM. Itu hanyalah contoh sederhananya saja. Intinya, bagaimana ketika kita sudah menjadi mahasiswa itu adalah kita tidak menganggur dan bagaimana kita dapat berguna bagi orang lain dengan tidak meninggalkan prestasi di bidang akademik. Sekian..
Pentingnya menjaga Apa yang Kita Punya
Dear friend, sore hari ini kusempatkan diri menulis kembali di blogku. Pada sore yang berbahagia ini aku akan menulis tentang pentingnya menjaga apa yang kita punya. Well, pada pagi hari tadi, uang sakuku sebesar 60.000 rupiah hilang entah kemana. Mungkin waktu menyimpan uang di saku, aku juga memikirkan hal lain. Nggak enak juga ya. Mungkin pembaca pernah mengalami kehilangan uang. Pusing sekali tadi rasanya. Aku tanya ke orang-orang disekitarku, “Pak, apakah anda melihat uang 60.000 terjatuh?”. Orang-orang tadi menjawab, “Asli, nggak lihat aku, Dek”. Emh, mungkin sekalipun tahu uangku jatuh, orang tersebut juga ga peduli, mungkin bisa saja mengambilnya. Entahlah hanya Tuhan yang tahu uangku kemana perginya.
Berbicara tentang kehilangan sesuatu, penulis disini menegaskan pentingnya menjaga apa yang kita punya, baik itu barang, kesehatan, maupun jalinan persaudaraan. Jangan sampai hilang, deh!! Sebab penulis meyakini, penyesalan itu datangnya dibelakang, setelah kita menyadari apa yang kita perbuat. Begitu juga tentang kehilangan, pasti menyesalnya di belakang.
Mungkin pembaca yang budiman punya pengalaman tentang kehilangan barang? Bisa tolong di share ke blog saya, thank you..!
Minggu, 22 April 2012
Sikap yang Baik dalam Menghadapi Kehidupan
Kehidupan di dunia ini bagaikan filosofi sebuah roda yang terus berputar. Kadang kita berada diatas kadang juga kita berada dibawah. Kehidupan ini tidak selamanya berpihak pada diri kita, seringkali penulis merasakan bahwa saya harus memahami orang lain jika saya mau dipahami orang lain. Cukup adil sih sebenarnya. Yang jadi pertanyaan sekarang adalah, seberapa siapkah kita untuk mengalah demi orang lain? Padahal belum tentu orang lain mau mengalah demi diri kita sendiri. Inilah permasalahan hidup.
Dalam kehidupan di dunia ini terdapat hukum, man jadda wa jada. Apakah itu? Man jadda wa jada adalah ungkapan yang berasal dari bahasa arab, yang artinya siapa yang menanam, maka dialah yang akan memanen. Inilah hukum kehidupan yang adil menurut penulis. Ada usaha pasti ada hasil. Ada perjuangan pasti ada kemenangan. Inilah yang diajarkan dalam agama Islam.
Akhirnya, penulis berpendapat bahwa kehidupan ini sebaiknya disikapi dengan sikap “nothing to lose”. Kalahpun tak apa, yang penting dalam kehidupan ini adalah proses. Masalah menang dan kalah serahkan semua pada Allah Swt. Biar yang diatas yang menentukan. Penulis juga menambahkan, kita sebaiknya jangan menyerah sebelum berperang. Tak ada salahnya kita mencoba hal yang baru, meski kita akan kikuk pada awalnya. Terima kasih..
(Karangan ini hanya setetes dari luasnya samudera ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, penulis mengajak kepada pembaca yang budiman agar menambahkan apa-apa yang kurang dari karangan saya. Terima kasih.)
Perkembangan Pemikiran di Kampus
Setiap hari selalu saja kutemui orang-orang sibuk yang berlalu lalang di area kampus. Ya, iyalah.. kampus memang tempat banyak orang melakukan berbagai kegiatan perkuliahan. Pingin sepi?? Ya di kuburan sana.. haha begitulah seloroh salah seorang temanku.
Kampus memang salah satu tempat dimana pemikiran kita banyak mendapat pengaruh dari luar. Pemikiran itu bisa datang dari dosen, teman perkuliahan, maupun pegawai-pegawai yang bekerja di kampus. Penulis pribadi sebagai salah seorang civitas akademis kampus merasakan hal serupa. Sempat terjadi kebingungan, aku sekarang kok telah berevolusi sebegitu cepatnya, sih? Tapi apa mau dikata, perkembangan yang pesat di kampus membuat kita berubah dan kita harus menanggapinya dengan bijak. Anggap saja itu sebagai awal dari masa kedewasaan kita. Apakah memang harus secepat ini?
Penulis merasa perkembangan pemikiran yang sebegitu cepatnya di kampus, hendaknya difilter dengan nilai dan norma yang telah kita dapatkan sebelum melakoni kehidupan di kampus. Hal itu penting, agar kita tidak menjadi orang lain. Kita adalah pemikiran kita. Jika pemikiran pribadi sudah hilang, mau menjadi apakah kita? Sangat disayangkan sekali apabila nantinya kita tidak menjadi apa yang kita cita-citakan.
Bagaimanakah tanggapan para pembaca blog yang budiman? Tolong tinggalkan pesan, kesan dan komentar dibawah karya tulis saya ini.. Terima kasih.
Minggu, 15 April 2012
Kompak, untuk Meraih Prestasi
Kekompakan dalam bekerja merupakan faktor penting untuk meraih prestasi. Dalam kekompakan terkandung kerjasama dalam bekerja. Kerjasama yang positif tentunya. Kompak itu sendiri menghasilkan suasana yang kondusif dalam bekerja, sehingga pekerjaan dapat dilakukan dengan fokus.
Menurut saya, kompak berarti seiya dalam perbuatan dan sekata dalam berpendapat. Kekompakan ini muncul tidak secara tiba-tiba, tetapi kekompakan muncul akibat pertemuan yang intens serta satu alur dalam dalam pemikiran. Kekompakan juga menunjukkan bagaimana peran orang lain dalam kehidupan kita. Saling membutuhkan dan simbiosis mutualisme lah manfaat dari kekompakan. Dengan adanya rasa kompak berarti kita menyadari bahwa hidup ini tidak sendiri. Terkadang ada juga orang yang masih memiliki pikiran kolot untuk hidup sendiri dan yang penting hidup tidak merugikan orang lain.
Penulis menyadari bahwa prestasi itu datangnya bukan karena diberi, tetapi prestasi datang karena hasil kerja keras dan jerih payah kita untuk mendapatkannya. Dalam proses meraih prestasi tersebut, tentunya kita membutuhkan orang lain sebagai media pengembangan prestasi kita. Nah, disinilah peran penting kekompakan, yaitu agar hubungan baik antar personal tetap terjaga dan saling mendukung satu dengan yang lain, demi kelancaran meraih prestasi. Mari kita jalin kekompakan dengan kesadaran bahwa kita membutuhkan orang lain untul meraih prestasi! Sekian.
Langganan:
Postingan (Atom)
